Eggi168 Weblog

Menikah …

December 26, 2008 · Leave a Comment

menikah adalah mimpiku yang tertunda. ya, aku pernah berangan-angan membangun sebuah rumah tangga di usia 23 tahun. usia dimana aku sudah mulai bekerja.

suatu waktu aku ungkapkan mimpiku itu pada orangtua ku. sungguh! bukan restu yang kudapat tapi sebuah usulan untuk menunda mimpi berumah tangga itu. usulan yang pernah membuat aku dan orangtuaku tidak harmonis.

tapi, kemudian aku berpikir. mungkin saja Tuhan memang punya rencana lain pada diriku sehingga tertunda mewujudkan mimpi menikah.

mungkin saja, Tuhan memintaku melakukan ini-itu lebih dahulu sebelum berumah tangga.

ya, kemungkinan itu bisa saja. bukankah jodoh adalah rahasia Illahi?

jadilah, kemudian aku bisa lebih menerima kenyataan mimpi yang tertunda.

tapi, pada akhirnya restu orangtua agar aku menikah pun terucap juga.

rupanya mengalir bersama waktu….

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri

perpisahan

December 24, 2008 · Leave a Comment

ada yang cukup menyedihkan di akhir taon ini. berpisah dengan teman kerja yang memutuskan untuk pindah tempat kerja.

pada akhirnya memang sebuah pertemuan akan berujung pada perpisahan. siap enggak siap, mau enggak mau, suka enggak suka, rela enggak rela, setiap pertemuan ada perpisahan.

dan hari ini, sehari sebelum Natal 2008, aku mencoba rela berpisah dengannya. sedih meski gak tau kenapa sedih.

saat jabat tangannya, aku hanya mengucap dalam hati : “semoga sukses selalu, Kawan.”

sebuah doa yang aku panjatkan, masa bodoh dia tidak mendengarnya.

ya, semoga sukses Kawan. terima kasih buat kebersamaan selama ini

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri

Kabar gembira atau sedih ?

November 21, 2008 · Leave a Comment

hari ini aku terima kabar darimu

entah aku harus tertawa bahagia,

atau tundukan kepala turut bersedih ?

tapi, begitulah berita yang ku dengar

berakhir sudah roman asmaramu

bahkan lebih tragis daripada kisah

Rome dan Juliet

Tapi, engkau berjanji akan terus tersenyum!

ya, tersenyumlah

meski ada denyut-denyut asmara kembali degup di jantung…. ku

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · sastra

Untuk Kawanku

October 30, 2008 · 1 Comment

entah benar atau tidak, tapi aku merasa setahun sudah aku menjalin hubungan dengan seorang teman. seorang teman yang sama-sama bekerja di kantor ini. teman yang aku saksikan dari hari Senin to Jumat antara pukul 8 pagi sampe 7 malam.

semua bermula dari sebuah kejahilan yang kemudian berujung pada perkenalan. kenal, berkenalan dan mengenal. hahaha… pertemanan haru-biru nan melankolis. malah kadang bumbu gokil mendominasi.

tidak jarang aku dan dia membahas soal HATI. hati yang berdebar, hati yang berdegup, termasuk juga hati yang gundahd-gulana.

dan pertemanan tetap pertemanan. meski menginginkan lebih namun ada sekat-sekat yang  membuat mimpi  tetaplah mimpi.

terima kasih Teman. setahun bersamamu memberi cerita dalam kehidupanku.

terima kasih Teman untuk kegilaan yang pernah kita lakukan. kegilaan yang suatu saat [mungkin] kita akan bergelak bersama kala mengingatnya.

anyway, aku ingin mendoakan kebahagiaan untukmu Teman. teruslah tersenyum!

→ 1 CommentCategories: diri sendiri

sekali lagi tentang CINTA

October 24, 2008 · 1 Comment

> *Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk
> menyukaimu.
> *Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA
> MEMILIH.
> *Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA
> dengan setia dan
> tulus.

itu sepenggal tulisan dalam email yang dikirim kawanku.

sengaja aku pilih kalimat itu karena aku menyukai tulisan diatas. isinya cukup menggambarkan kehidupan setiap orang dalam urusan percintaan.

ngaku aja… rasanya kita pernah begitu memaksa orang lain untuk terlibat asmara dengan kita. mulai dari maksa untuk menjadi kekasih. bahkan sampai maksa menjadi kekasih meski kenyataan hubungan sudah tidak bisa berlanjut. pemaksaan pun kadang disertai intimidasi, kekerasan bahkan pelecehan.

dalam hubungan asmara pun, rasanya kita pernah mempersilahkan orang yang kita taksir untuk membuat sebuah pilihan. atau bahkan kita yang harus memutuskan sebuah pilihan. sementara memilih itu bukan hal mudah.

bahkan terlibat asmara membuat kita menanti seseorang untuk mau menaruh hatinya untuk kita. ah.. menanti dalam hubungan asmara bagi saya sebuah hal yang indah. bahkan cenderung membahagiakan.

→ 1 CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan

Cinta

October 24, 2008 · Leave a Comment

iwamu diciptakan di dunia
Hanya untuk menemani jiwaku
Menjelajahi Samudera Kehidupan
Sampai akhir

Yang aku butuhkan bukan jasadmu yang fana
Tapi jiwamu untuk kubawa kembali
Dalam keabadian tanpa batas ruang dan waktu

Kamu juga tahu, karena rasa yang sejati
Tak akan pernah bisa diingkari dari hati yang paling dalam

Karena itu berasal dari Samudera Illahi
dan terbebas dari nafsu hewani dan ego . . .
Itu yang disebut Cinta Sejati

Akan kubangunkan jiwamu yang sudah lama tertidur
Supaya tersadar dalam kesadaran Surgawi
Karena aku adalah engkau dan engkau adalah aku

itulah sepenggal puisi yang ditulis Jamiludin Rumi, seorang sufi yang memiliki pengikut tidak sedikit jumlahnya.

Cinta, bagi Rumi adalah rasa hakiki seorang manusia. insan yang mencinta maka ia hanya memiliki cinta yang esa, tunggal. bahkan dalam kesempurnaannya, tidak ada pembeda antara yang dicintai dengan mencintai. kedua-duanya bagai dua keping mata uang. terjalin dengan baik.

Rumi dalam setiap bukunya mendeskripsikan cinta dalam konteks religiutas. Ia menafsirkan bagaimana seorang Muslim harus menaruh hatinya, mencintai sepenuh hati Gusti Allah bahkan dalam tarikan nafasnya sekali pun. tidaklah heran bila arti cinta hamba dengan Tuhan dianalogikan bagai cinta sepasang kekasih.

ini sih pendapat saya aja setelah membaca buku-buku sufi baik karangan Jamiludin Rumi maupun yang terinspirasi Rumi.

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged: , ,

menjadi Jendral

September 26, 2008 · Leave a Comment

hampir sebulan sudah aku menjalani lakon sebagai Assisten Produser, menggantikan Jenifer yang cuti panjang sehingga tidak bisa menunaikan tugas sebagai Produser. jadilah status Assisten namun pekerjaan Produser.

ya… meski sudah malang-melintang dalam kepemimpinan, namun nyatanya tetap saja butuh adaptasi melakoni tugas sebagai seorang pemimpin. adaptasi yang sempat membuat kepalaku berdenyut-denyut tiga hari lamanya (hahahaha).

tapi jujur, aku menyukai tantangan sebagai seorang pemimpin. terutama ketika situasi penuh tekanan dan harus mengambil keputusan secepat mungkin. ah, rasanya seluruh adrenalin terpacu mendidih.

aku teringat ketika kuliah sempat ikut pelatihan kepemimpinan yang diadakan oleh MENWA. selama tiga hari, peserta yang sudah dibagi dalam regu diajak untuk survival di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. lokasi merupakan pelatihan KOPASSUS. selama tiga hari, tiap regu harus berjalan dari titik A menuju titik finish yang total menempuh 20 KM. mungkin terkesan pendek namun bentuk medan yang menanjak bahkan dengan derajat kemiringan sampai 45 derajat. belum lagi hujan turun mempersulit penempuhan medan.

selama itu, setiap regu harus berhenti di tiap pos dan mengerjakan soal seperti membuat bivack, orientasi arah, menangkap binatang sampe permainan. selama tiga hari, wajar bila keputusasaan, emosi yang memuncak sampai tertekan keluar dari tiap anggota regu.

disinilah menariknya pelatihan itu. bagaimana kita bisa tetap kompak sehingga mampu menyelesaikan tugas demi tugas tanpa harus bersinggungan satu dengan lainnya. belum lagi membuat keputusan di tengah kondisi yang sudah mirip neraka.

ada lagi pelatihan kepemimpinan yang pernah aku ikuti. pelatihan diadakan aktifis Islam dan menekankan kepada kesabaran. “Pemimpin memang harus tegas namun lebih penting sabar. sabar menghadapi beraneka ragam orang yang dipimpinnya, sabar menghadapi kesombongan diri sendiri, sabar menghadapi kendala yang ditemuinya, dan sabar untuk tidak menjadikan kepemimpinan sebagai alat keuntungan pribadi,” begitu ungkap narasumber pelatihan.

pada akhirnya, aku setuju dengan sebuah pendapat yang menyatakan bahwa pemimpin bukan bakat sejak lahir. melainkan proses yang terbentuk.

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan

masih ada kesempatan bersyukur

September 22, 2008 · Leave a Comment

kenapa Tuhan menciptakan si Kaya dan si Miskin ?

saya yakin tujuan Tuhan bukan mengijinkan si Kaya untuk pamer kekayaan di hadapan si Miskin. ada maksud yang lebih mulia.

si Kaya dengan segala kekayaannya dan si Miskin dengan segala kekurangannya adalah dua aspek yang saling melengkapi. si Kaya wajib menggunakan hartanya untuk membantu kehidupan si Miskin.

Sabtu (13/9), saya berniat membayar Zakat Fitrah setelah menerima THR. jam sepuluh pagi, saya pun menuju mesjid dekat rumah. ternyata sepi… tidak ada satupun pengurus di mesjid tersebut. jadilah saya kembali ke rumah tanpa sempat menunaikan salah satu rukun Islam itu.

saya pun menyempatkan diri mampir ke mesjid di kampus. sekali lagi dengan niat membayar zakat. sayangnya, lagi-lagi saya tidak menemui satu pun pengurus mesjid yang bertugas menerima pembayaran zakat.

tiba-tiba darah saya mendidih. kulit saya merinding. apakah kesempatan saya berbuat baik sudah tertutup ? apakah saya sudah tidak lagi diberi waktu untuk menunaikan kebaikan ?

jadi, bersyukurlah bila Anda masih diberi kesempatan menunaikan kebaikan.

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri

melankolis jalanan

August 19, 2008 · Leave a Comment

Janganlah menangis,

Meski hidup ini sadis

Jangan teteskan air mata,

Karena hidup sudah susah

Biar ku ceritakan cinta,

Meski kita tidak mengerti artinya

Lamban ku peluk dirimu,

Ketika darah sudah terlanjur beku

→ Leave a CommentCategories: sastra

menanti pernikahan

August 6, 2008 · 1 Comment

menanti saat untuk menikah adalah sebuah masa yang membahagiakan. sama seperti dongeng seorang putri yang menantikan pangeran datang menjemputnya untuk dibawa ke Negeri Impian.

ah… penantian untuk menikah adalah masa yang indah. kesabaran, ketabahan dan kepercayaan menyatu dalam hembusan kerinduan tali kasih nan abadi.

menanti dan menanti. bila sampai sudah tiba waktunya, maka kebahagiaan akan terasa seumur hidup. keindahan akan terkenang sampai ke liang kubur.

→ 1 CommentCategories: sastra