Satu persatu aku menyalami rekan kerja yang mengundurkan diri. Mereka memilih bekerja di stasiun televisi lain, tentunya dengan segudang pengharapan.
Ya, sudah hak setiap orang untuk memiliki kehidupan yang layak. Bahkan lebih layak dibandingkan kondisi saat ini. Aku hanya beharap bahwa kepergian rekan-rekan itu membawa kebaikan bagi tempat yang ditinggalkannya, bagi tempat yang akan didatanginya dan tentu saja bagi dirinya sendiri. Jadi baik untuk semua pihak.
Jujur saja, peristiwa mundurnya rekan-rekan secara bersamaan membuat diriku sedikit goyah. Semangat kerja menurun. Otak lebih banyak diisi pikiran bagaimana dan bagaimana. Bahkan hati dipenuhi hasrat untuk ikut pindah. Pokoknya bagai daun di atas bantal.
Beberapa hari lalu aku menerima sebuah email dari rekan milis. Isinya cukup menarik. Ditulis bahwa kita bisa mengubah suatu lingkungan menjadi lebih baik. Bukan lingkungan yang mengubah diri kita.
Inilah yang mulai saya sadari. Sebenarnya kita memiliki andil dalam membuat maju atau stagnan sebuah organisasi. Saya tidak katakan rekan-rekan yang undurkan diri sebagai barisan yang tidak memiliki andil memajukan perusahaan. Tidak! Saya percaya mereka memiliki niat memajukan perusahaan. Hanya saja, merasa niatnya bisa lebih baik dilaksanakan di tempat lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan ?
Setelah membaca email itu, saya mulai mengatur kembali semangat. Membangun kembali niat. Memang kehilangan adalah sesuatu yang menyakitkan. Meski seorang karyawan hanya manusia, namun saya percaya setiap manusia memiliki potensi besar. Kalaupun terlihat sebagai sosok lemah tidak mampu, maka kemungkinannya karena tidak diberi kesempatan mengembangkan potensi.
Maka, semangat harus kembali dibangun. Apalagi akan hadirnya para pengganti karyawan yang undur diri. Apakah pantas kita menunjukan sebuah semangat yang minimalis ketika mereka justru memiliki semangat juang 45?
Jepang mampu bangkit dari kekalahannya akibat Perang Dunia II karena semangat samurai-nya. Semangat tidak mau kalah, bahkan kalah berbalas dengan tercerabutnya nyawa. Hal inilah yang seharusnya aku tunjukan kepada rekan baru, pun kepada rekan yang sudah undurkan diri.
Semangat bahwa aku bukan barisan orang kalah. Aku juga berjuang sama seperti kalian.
Tunjukan…buktikan!
Kita bukan kaum kalah
Semangatlah wahai kawan
Atau dirimu benar-benar kalah
(bait lagu milik Kharetz, grup band Punk asal Ciomas)