Eggi168 Weblog

ode semangat

July 11, 2008 · 1 Comment

Satu persatu aku menyalami rekan kerja yang mengundurkan diri. Mereka memilih bekerja di stasiun televisi lain, tentunya dengan segudang pengharapan.

Ya, sudah hak setiap orang untuk memiliki kehidupan yang layak. Bahkan lebih layak dibandingkan kondisi saat ini. Aku hanya beharap bahwa kepergian rekan-rekan itu membawa kebaikan bagi tempat yang ditinggalkannya, bagi tempat yang akan didatanginya dan tentu saja bagi dirinya sendiri. Jadi baik untuk semua pihak.

Jujur saja, peristiwa mundurnya rekan-rekan secara bersamaan membuat diriku sedikit goyah. Semangat kerja menurun. Otak lebih banyak diisi pikiran bagaimana dan bagaimana. Bahkan hati dipenuhi hasrat untuk ikut pindah. Pokoknya bagai daun di atas bantal.

Beberapa hari lalu aku menerima sebuah email dari rekan milis. Isinya cukup menarik. Ditulis bahwa kita bisa mengubah suatu lingkungan menjadi lebih baik. Bukan lingkungan yang mengubah diri kita.

Inilah yang mulai saya sadari. Sebenarnya kita memiliki andil dalam membuat maju atau stagnan sebuah organisasi. Saya tidak katakan rekan-rekan yang undurkan diri sebagai barisan yang tidak memiliki andil memajukan perusahaan. Tidak! Saya percaya mereka memiliki niat memajukan perusahaan. Hanya saja, merasa niatnya bisa lebih baik dilaksanakan di tempat lain.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ?

Setelah membaca email itu, saya mulai mengatur kembali semangat. Membangun kembali niat. Memang kehilangan adalah sesuatu yang menyakitkan. Meski seorang karyawan hanya manusia, namun saya percaya setiap manusia memiliki potensi besar. Kalaupun terlihat sebagai sosok lemah tidak mampu, maka kemungkinannya karena tidak diberi kesempatan mengembangkan potensi.

Maka, semangat harus kembali dibangun. Apalagi akan hadirnya para pengganti karyawan yang undur diri. Apakah pantas kita menunjukan sebuah semangat yang minimalis ketika mereka justru memiliki semangat juang 45?

Jepang mampu bangkit dari kekalahannya akibat Perang Dunia II karena semangat samurai-nya. Semangat tidak mau kalah, bahkan kalah berbalas dengan tercerabutnya nyawa. Hal inilah yang seharusnya aku tunjukan kepada rekan baru, pun kepada rekan yang sudah undurkan diri.

Semangat bahwa aku bukan barisan orang kalah. Aku juga berjuang sama seperti kalian.

Tunjukan…buktikan!

Kita bukan kaum kalah

Semangatlah wahai kawan

Atau dirimu benar-benar kalah

(bait lagu milik Kharetz, grup band Punk asal Ciomas)

→ 1 CommentCategories: diri sendiri

romansa kehidupan

July 11, 2008 · No Comments

Akhir pekan ini Ibukota diguyur hujan. Sebuah peristiwa alam yang terbilang unik karena biasanya hujan turun pada bulan-bulan berakhiran ”Ber” atau ”Ri”. Lha koq ini di bulan Juni ? Teman saya bilang para dewa khayangan sedang bersedih karena adanya SKB 3 menteri yang usik-usik kepercayaan seseorang. Sementara teman saya yang lain berkata inilah cara Tuhan menyejukan kembali hati orang Indonesia yang sekian hari panas oleh isu naiknya harga BBM, aksi serang antar organisasi, dan benturan politik.

Apapun itu, praktis selama dua hari di akhir pekan saya hanya berdiam diri di dalam rumah saja. Saya urung pergi karena malas berhujan ria apalagi sambil kendarai motor.

Hari Sabtu, saya mengunjungi pacar di rumah kontrakannya. Tidak kemana-mana karena hujan sudah turun sejak pukul sepuluh pagi. Turun bahkan reda ketika jam sudah sembilan malam.

Hasilnya selain mengobrol, saya pun tertidur pulas hanyut terbawa suasana yang memang mendukung untuk beristirahat. Sejenak saya seperti menemukan kedamaian hidup, sejenak beristirahat dari rutinitas belakangan waktu lalu yang hampir tidak memberi saya ruang untuk sekadar menghela nafas.

Saya memang tidak begitu sibuk. Bahkan mungkin kalau saya bilang saya sibuk adalah suatu hal yang mengada-ada. Tetapi apa yang terjadi pada lingkungan tempat saya bekerja belakangan ini membuat adrenalin berpacu.

Secara kebetulan, beberapa rekan kerja mengundurkan diri. Bagi saya, adalah suatu hak bagi seseorang untuk memilih dimana ia bekerja. Suatu hak pula untuk melangkah dan memutuskan yang terbaik bagi dirinya. Bukankah kita bekerja karena didorong beragam faktor ? Ada yang mencari kebutuhan finansial, kepuasan batin atau hanya sekedar bekerja mengisi waktu luang.

Tetapi euforia keluarnya sebagian rekan kerja berimbas juga pada alam pikiran saya. Mau tidak mau saya pun berpikir apa yang sebaiknya saya lakukan, kembali bekerja atau ikut mencari lahan kerja baru. Pikiran ini terus-menerus menghantui saya kalau boleh jujur. Dan inilah yang kemudian membuat pusing kepala saya.

Entahlah! Situasinya berbeda ketika saya memutuskan berhenti kerja di perusahaan sebelum saat ini. Ketika itu saya tidak ragu untuk ’mencari yang lain.’ Ya karena memang saya tidak lagi banyak berharap terhadap perusahaan.

Sebuah keputusan tentu tidak bisa diambil dalam keadaan terburu-buru atau cepat. Dulu pun ketika memutuskan berhenti, saya butuh waktu hampir bulanan sampai kemudian mantap untuk kembali mengirim surat lamaran demi surat lamaran.

Ah… sejenak saya berhenti memikirkan euforia itu. Dalam pejaman mata yang ditemani rintik hujan, saya tertidur. Tapi tidur kali itu istimewa. Entah kenapa satu per satu saya teringat kembali bagaimana diri saya beberapa waktu lalu.

Teringat ketika setiap hari menyambangi kantor pos guna mengirimkan lamaran. Atau ingat pagi-pagi bangun karena harus menjalani tes di sebuah perusahaan pada pukul sembilan pagi. Pokoknya saya diajak kembali melihat diri saya hari kemarin.

Sampai kemudian saya sadar bahwa tujuan kita dalam hidup ini adalah belajar. ”bukan dimana kita tapi bagaimana kita.”

Hidup adalah proses belajar, belajar dan belajar. Khalil Gibran berkata bahwa orang yang berhenti untuk belajar adalah MATI meski ia merasa memiliki kehidupan.

Hakikat inilah yang kemudian kembali saya sadari. Kembali saya pahami. Sudahkah saya melakukan yang terbaik dalam proses belajar di perusahaan ini ? Atau saya hanya baru melakukan proses belajar paling dasar ?

Dan bila nanti proses belajar sudah cukup, maka sebuah lompatan pun akan saya lakukan. Karena sekali lagi, hidup adalah belajar !

→ No CommentsCategories: diri sendiri

Untuk Sita

July 11, 2008 · 1 Comment

Mungkin saya ini manusia unik. Saya menyukai yang belum tentu disukai oleh banyak kalangan. Ambil contoh di tempat bekerja saat ini. Kebanyakan rekan menyukai bidang olahraga atau otomotif. Sementara penggemar musik ada tapi jenis musik yang easy-listening atau easy-going.

Sementara saya sedikit menaruh perhatian pada bidang otomotif. Kalau olahraga suka hanya saja bukan seperti yang digemari kebanyakan rekan kantor. Nah, untuk musik rasanya hanya saya seorang yang menggemari musik genre cadas.

Tengoklah setiap jam bubar kantor, maka ruangan saya akan hingar-bingar oleh musik berirama keras mulai dari Death Metal, Black Metal, Punk sampai Hard Core. Bagi saya itulah musik yang bisa asyik. Sementara rekan kerja saya yang belum pulang dan harus mendengar lantunan musik itu hanya bisa elus dada. Sabar kupingnya sakit.

Kadang saya berharap ada rekan kerja di kantor ini yang sama-sama sealiran menyukai musik cadas. Sehingga bisa mendengarkan bareng lalu membahasnya. Bukan geleng-geleng kepala ketika suara yang keluar hanya teriakan dan jeritan di antara nada.

Sebenarnya sih ada seorang rekan, Sita namanya. Rupa-rupanya rekan saya yang saat bekerja di kantor sedang hamil anak pertama ini menyukai musik cadas. Beberapa kali kami nyambung bicara grup cadas. Bahkan Sita akui pernah jadi anak Punk. ”Punk itu jiwa, semangatnya harus ada di hati,” begitu kataku suatu ketika. Beberapa kali pun aku pernah memberinya info pertunjukan musik-musik cadas di JABODETABEK.

Uniknya, setiap kali aku putar musik-musik cadas maka Sita akan enjoy mendengar. Bahkan Sita merasa kalau bayi yang dikandungnya pun ikut menikmati. ”Hahaha… bayimu nanti jadi rocker, Sita,” candaku.

Kalau sudah begitu maka aku pun akan berceramah ria. Menjelaskan seribu satu hal tentang Metal. Mulai dari nenek moyangnya sampai anak cicitnya. Termasuk juga semangat kaum cadas. ”Punk biar kayak orang gila itu tapi idealisnya tinggi,” jelasku suatu ketika, ”Ada enggak anak punk malak, nyuri atau ngerampok orang? Kagak ada karena anak punk hidup dengan dirinya sendiri.” Berulang kali aku cerita tentang musik cadas tanpa peduli Sita mendengarkan atau tidak. Masa bodoh!

Tapi rupanya Sita harus berhenti bekerja. Ia ikut suami yang bekerja tidak di kota Jakarta. ”Sulit bagi suamiku jauh apalagi mau melahirkan begini,” alasan yang diberikan kepadaku.

Ya, mau apa lagi. Aku hanya merasa kehilangan seorang rekan yang memiliki kesenangan sama. Sebagai tanda perpisahan, aku pun menyiapkan sebuah CD berisi kumpulan musik-musik cadas koleksiku. ”Siapa tahu bayimu kangen dengar musik metal, nanti tinggal putar aja ya,” pesanku saat menyerahkan CD itu. Tidak lupa ku ucapkan terima kasih mau ikhlas bersama-sama mendengarkan musik cadas yang bagi sebagian orang cukup untuk membuat sakit kepala.

Dan, hari ini kembali aku mendengar musik cadas. Sengaja menggunakan headphone dan disetel dengan volume maksimal. Ya, biarkan aku larut dalam kegembiraan. Gembira sendiri…..

* ditulis ketika Sita resmi mengundurkan diri. lupa tanggal Juni 2008

→ 1 CommentCategories: diri sendiri

mahalnya harga istirahat

June 30, 2008 · No Comments

berapa harga agar anda bisa berisitirahat di Ibukota ini ?

ribuan, jutaan, miliar atau bahkan triliun ?

seorang kawan saya mengundang untuk bertamu. dia baru saja beli sebuah apartemen di tengah kota Jakarta. kamarnya di lantai 20. dari jendela kamar, saya bisa lihat lampu-lampu kota. berapa harga sewa apartemen teman saya ini, “sebulannya habis lima juta, Gie.” teman saya ‘terpaksa’ memilih apartemen itu karena faktor lokasi yang memudahkannya bermobilitas di tengah belantara Ibukota. “enggak macet, enggak bising, dekat lagi. sebuah tempat yang nyaman buat istirahat”.

ada lagi teman saya yang senang habiskan akhir pekan dengan menyewa penginapan di Puncak, pantai atau kawasan wisata lainnya. jika anda atau saya sebulan sekali berlibur maka teman saya ini setiap minggu berlibur. meski harga BBM naik dia tetap menganggarkan biaya liburan supaya empat kali dalam sebulan bisa melepas penat. berapa biaya yang dikeluarkannya, “kadang diatas lima juta kadang dibawahnya.”

wah..wah… kehidupan Ibukota yang terus bergerak dinamis memang membuat istirahat sebagai barang mahal. enggak heran hal ini pun dilirik sebagai potensi pasar. lihat aja gerai-gerai yang menawarkan jasa spa, relaksasi, dan sejenisnya.

→ No CommentsCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged:

hadiri acara keluarga

June 30, 2008 · No Comments

rasanya sudah lama saya tidak hadiri acara kumpul bersama sanak famili. biasalah… kesibukan dan kesibukan. walau kadang saya malu sebenarnya sesibuk apa sih diri saya ini. atau mungkin kesibukan hanyalah alasan yang sengaja dikarang.

nah, Minggu (29/6) saya hadiri acara kumpul keluarga yang dikemas dengan arisan. ada Om-Tane, Pa Le-Bu Le, sepupu, keponakan, dll. pangling saya. ada sepupu yang seingat saya masih kecil tapi sekarang sudah tumbuh besar. keponakan yang sudah jadi ABG. atau miris melihat Pa Le yang seingat saya terakhir ketemu masih gagah tegap berjalan. tapi kemarin kondisinya sudah lanjut usia. entah kemana kegagahannya tempo lalu.

setelah kembali ke rumah, saya merenung.

begitu cepatkah waktu berjalan ? rasanya baru kemarin saya bertemu sanak famili namun tau-tau kondisi mereka jauh berbeda dibandingkan pertemuaan terakhir.

waktu yang begitu cepat atau saya yang enggak sadar menyaksikan perkembangan sanak famili.

saya pun kemudian menatap wajah saya di cermin yang terpasang di tembok kamar.

hahaha… rupanya saya sudah berumur. garis-garis hiasi jidat tanda saya sering mengerutkan kulit saat mikir. kumis, jambang dan jenggot terus balapan meski setiap hari dicukur biar wajah tetap keliatan masa remaja. rasanya baru akhir pekan lalu saya datangi salon untuk perawatan wajah. tapi tanda-tanda bahwa saya sudah bukan seorang remaja lagi tidak bisa dibohongi.

lalu, saya juga merenung adakah yang saya ketahui tentang sanak famili saya sendiri ?

setelah sekian lama tidak menunjukan batang hidung saya, rupanya banyak informasi yang berkembang. miris! saya saja bisa lupa nama-nama sepupu saya. si A saya panggil dengan nama si B atau sebaliknya.

hmm…. rasanya tidak salah bila hadir dalam acara keluarga.

→ No CommentsCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged: , ,

Goodbye to romance (Ozzy Osbourne)

June 27, 2008 · No Comments

Yesterday has been and gone
Tomorrow will I find the sun
Or will it rain?
Everybody’s having fun
Except me I’m the lonely one
I live in shame

Chorus:
I said Goodbye to romance, Yeah!
Goodbye to friends, I’ll tell ya!!
Goodbye to all the past
I guess that we’ll meet,
We’ll meet in the end

I’ve been the king, I’ve been the clown
Now broken wings can’t hold me down
I’m free again
The jester with the broken crown
It’s won’t be me this time around
To love in vain

Chorus:
I said Goodbye to romance, Yeah!
Goodbye to friends, I tell ya!!
Goodbye to all the past
I guess that we’ll meet,
We’ll meet in the end

Bridge:
And I feel the time is right
Although I know that you just might
Say to me
Whatcha gonna do
Whatcha gonna do

‘Cause I have to take this chance
Goodbye to friends and too romance
And to all of you
And to all of you
Come on now!!!!

Solo

Chorus:
I said Goodbye to romance, yeah!
Goodbye to friends, I tell ya!!
Goodbye to all the past
I guess that we’ll meet,
We’ll meet in the end

And the weather’s looking fine
And I think the sun will shine again
And I feel I’ve cleared my mind
All the past is left behind again

Chorus:
I said Goodbye to romance, yeah!
Goodbye to friends, I tell ya!!
Goodbye to all the past
I guess that we’ll meet,
We’ll meet in the end.

* setelah bertemu seorang kawan

→ No CommentsCategories: diri sendiri

kita sama-sama berjuang

June 27, 2008 · No Comments

selamat datang Juli! selamat datang hari baru!

ya, satu persatu aku salami rekan-rekan yang melangkahkan kakinya untuk mengembangkan sayap di perusahaan lain. “sukses selalu!,” begitu kataku kepada setiap dari temanku. ku genggam erat tangan mereka sambil berharap semoga doa yang kuucapkan dalam hati bisa menjadi restu perjalanan mereka selanjutnya.

ah… hidup ini adalah sebuah perjalanan! aku tidak ingin larut dalam haru-biru perpisahan. melainkan membangun sebuah semangat perjuangan dalam diriku. bukankah rekan-rekanku juga berjuang, hanya saja di lokasi berbeda? maka aku pun juga harus berjuang.

jadi selamat jalan rekan!

kita akan sama-sama berjuang…

berjuang dalam kehidupan ini

terima kasih!

→ No CommentsCategories: diri sendiri

memulai pertapaan panjang

June 19, 2008 · No Comments

Juni

Akhirnya tahun 2008 memasuki juga bulan keenam. bulan pertengahan tahun. bulan yang menunjukan perjalanan waktu tinggal enam bulan sebelum memasuki tahun 2009.

Inilah bulan ketika aku memulai pertapaan panjang. bertapa untuk kembali merenung apa yang sudah aku lakukan enam bulan lalu dan apa yang akan aku lakukan enam bulan kemudian. bertapa untuk mengevalusi resolusi 2008 yang aku buat di awal tahun lalu, sudahkah ada yang aku lakukan atau hanya corat-coret tanpa arti.

pertapaan panjang akan aku mulai.

bulan Juni sebenarnya masa liburan. tapi buatku justru kesibukan baru akan dimulai. sisa waktu enam bulan lagi bukanlah masa yang lama. itu hanya sekejap!

dan aku memulai pertapaan panjang.

menjadi pertapa berselimut asa

→ No CommentsCategories: diri sendiri

ealah….

June 16, 2008 · No Comments

haruskah aku senang melihat dirimu ?

atau sebaliknya, mengutuki kebahagiaan yang engkau dapati

ketika engkau berbahagia dengan seribu satu tindakannya

namun ku tahu

aku pun pernah melakukan hal yang sama

tapi mungkin tidak begitu berarti bagimu

karena bisa jadi aku tidak ada arti sama sekali untuk dirimu

sampai muak

sampai muntah

meratapi masa lalu yang tidak kunjung kembali

→ No CommentsCategories: sastra

dinamis

June 15, 2008 · 1 Comment

kehidupan di dunia ini adalah dinamis

terus bergerak dan bergerak

berubah mencari bentuknya yang sempurna

dari kosong menjadi isi

kehidupan di dunia ini adalah dinamis

setiap orang ingin menjadi bintang utama

setiap orang ingin mengejar mimpinya

bergerak, berlari menuju cita-citanya

dan kehidupan tidak bisa disulap untuk stagnan

dan seseorang tidak bisa diminta untuk berdiam diri

berdiam tidak boleh lagi mengejar mimpinya

berdiam tidak boleh lagi bermimpi

 

* ditulis sesaat setelah mendengar kabar beberapa karyawan DAAITV yang mengundurkan diri bulan Juli 2008

→ 1 CommentCategories: sastra