UN SMP berkahir Rabu (8/5). kalau mau tau gimana perjuangan pelajar menghadapi UN, simak berita dari Republika.co.id
—
Siswi SMP Meninggal Selesai UN
Arin Triyani (15), siswi SMPN 2 Geger, Jawa Timur, pingsan persis setelah menyelesaikan soal Ilmu Pengetahuan Alam yang diujikan pada hari terakhir, Rabu (8/5). Selesai UN, dia dan teman-temannya duduk di teras kelas. Tiba-tiba dia pingsan di pangkuan temannya yang bernama Luluk.
Teman-temannya berusaha membawanya ke ruang guru. Terlambat. Gadis belia warga Kecamatan Ngelandung itu sudah tiada. Sang guru, Suwarno, memastikan bahwa muridnya itu sudah tak bernapas lagi. Dia mengatakan, Arin memang mengalami penyakit jantung bawaan. Siswi itu tidak pernah mengikuti kegiatan olah raga di sekolah.
”Mungkin Arin kelelahan sehingga tak bisa bertahan,” kata Retnowulan, dokter di Puskesmas Geger. Dia tampak memeriksa tubuh Arin yang mulai dingin. Dia mengakui gadis itu pasiennya yang sering memeriksakan kondisi kesehatannya di puskesmas.
Kemarin, anak keempat pasangan suami istri, Amat Suparni dan Fatonah, itu meninggal dunia setelah mengerjakan 40 soal mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang menjadi penutup UN siswa SMP. Penyakit jantung membuat berat badan Arin hanya 40 kilogram dengan tinggi badan 150 cm. ”Di sekolah, dia tak banyak beraktivitas. Kami memaklumi kondisinya,” kata Suwarno. Yang tak ia duga adalah UN bisa memicu drop kondisi jantung siswanya itu.
Rupanya saat UN kemarin, Arin dalam kondisi puasa. Karena itu, dokter menduga ia amat kelelahan. Namun, Kepolisian dan Puskesmas Geger juga memeriksa untuk memastikan penyebab kematian siswi yang berencana melanjutkan sekolah ke SMA itu.
”Kami tidak menyangka jika anak saya meninggal dunia di sekolah. Selama ini dia rajin sekali berpuasa dan rajin pula sekolah. Anak kami memang sudah punya penyakit jantung sejak masih duduk di bangku SD,” kata ayah Arin, Amat Suparni, disela kedatangan jenazah anaknya.
—
semoga Allah mengampuni dosa beliau.
UN memang diperlukan untuk menguji sejauh mana kualitas pendidikan Indonesia. tapi proses pengujiannya memang harus dikaji ulang.
dari jaman kuliah saat jadi aktifis (cuit cuit), dalam sebuah diskusi, saya pernah katakan bahwa membuat pengujian secara nasional adalah sebuah kesalahan!. ya, sistem pendidikan nasional seharusnya menghargai kearifan lokal. menghargai potensi masyarakat setempat. bahwa tidak bisa menyamaratakan kemampuan anak didik. apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa sarana & prasarana pendidikan tiap daerah tidaklah sama.
sekali lagi, kaji ulang pelaksanaan UN!
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.