Eggi168 Weblog

menanti pernikahan

August 6, 2008 · 1 Comment

menanti saat untuk menikah adalah sebuah masa yang membahagiakan. sama seperti dongeng seorang putri yang menantikan pangeran datang menjemputnya untuk dibawa ke Negeri Impian.

ah… penantian untuk menikah adalah masa yang indah. kesabaran, ketabahan dan kepercayaan menyatu dalam hembusan kerinduan tali kasih nan abadi.

menanti dan menanti. bila sampai sudah tiba waktunya, maka kebahagiaan akan terasa seumur hidup. keindahan akan terkenang sampai ke liang kubur.

→ 1 CommentCategories: sastra

moksa

August 5, 2008 · 5 Comments

Moksa

Dalam ajaran Hindu-Budha, moksa berarti fase seseorang melepaskan diri dari ikatan duniawi. seseorang yang moksa membuat dirinya bahagia untuk menempuh nirwana.

beberapa hari ini, alam pikiran saya dipenuhi pemikiran tentang konsep pelepasan. ya, melepas apa yang selama ini menjadi bagian dari diri kita. apakah hal itu yang mudah atau sulit ?

menurut saya, bisa sulit bila kita merasakan sebuah keterikatan yang amat sangat. sehingga melepasnya pun seperti benar-benar kehilangan. padahal bukankah semula kita tidak memilikinya. kita hanya kebetulan memilikinya.

kita bekerja keras sampai berhasil mendapatkan harta atau pangkat-jabatan. bukankah ini kebetulan ? saya pikir hal itu lumrah sebagai kompensasi. seorang atasan tentu menilai baik dan mempromosikan bawahannya yang terlihat rajin, cakap, dan tekun. saya rasa tidak ada seorang atasan yang memberi kompensasi lebih ketika bawahannya hanya sekedar datang-absen-kerja-pulang.

pun dengan harta benda. kita bekerja lalu hasilnya bisa membeli ini-itu. waktu yang cukup lama rasanya cukup untuk mengumpulkan barang-barang. meski tidak ada nafsu duniawi atau keserakahan, toh tetap saja kita mengumpulkan barang berharga. semula naik bus lalu tergoda beli sepeda motor. semula cukup pulas tidur tanpa AC lalu tergoda beli AC meski tidurnya bersarung ria.

ya…bukankah semua hanya kebetulan.

tapi pelepasan semua hal itu terasa tidak mudah. ada yang mengganjal ketika misalnya kehilangan jabatan, harta benda atau hal lain yang telah dirasakan sebagai bagian diri ini.

saya sedang belajar untuk MOKSA….

→ 5 CommentsCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged:

ikrar

July 28, 2008 · Leave a Comment

ada mata yang terkurung dalam asmara

ada asmara yang terpendam di balik hati

meminta keluar namun tidak bisa

karena sudah berjanji

→ Leave a CommentCategories: sastra

Let’s Make History yang masih jauh

July 28, 2008 · Leave a Comment

Jakarta Rock Parade usai digelar tanggal 11-13 Juli 2008. festival yang mengusung tema “Let’s make history!” sedianya menghadirkan lebih dari sepuluh grup rock.

saya menyempatkan diri hadir selama dua hari (Sabtu-Minggu). sehari beli tiket sehari lagi hanya datang melihat di luar arena.

rasanya keinginan panitia jauh dari harapan. boro-boro Let’s Make History, yang ada inilah sebuah konser sepi dengan hanya 50-100an penonton saja. padahal target panitia event ini bisa menghadirkan seribuan penonton (yang tentu saja penggila Rock sejati).

adakah yang salah ?

dalam tulisan di KOmpas, Log Zhelebour yang juga prmotor grup-band rock menyebutkan sebuah even besar bukan jaminan festival rock akan ramai oleh rockers. “minimal grup-rock itu harus punya basis massa besar, meski harga tiket mahal tetap saja penggemar fanatic mereka akan berdatangan,” ujar Log dalam artikel itu.

apakah grup-band yang hadir di Jakarata Rock Parade tidak terkenal ? wuih! jangan salah. siapa yang tidak kenal KOIL, NETRAL. saya rasa mereka adalah grup-band yang terkenal dan memiliki basis massa.

tetapi sebagian rockers yang saya temui di luar arena merasa harga tiket yang mencapai harga 200ribu adalah mahal. meski kompesasinya mereka bisa menonton lebih dari tiga grup-band. panitia pun berkelit bahwa harga itu justru murah.

saya tidak ingin berargumen tentang sepinya Jakarta Rock Parade. tetapi sebagai penikmat musik cadas, maka saya acungkan jempol kepada panitia yang berniat membuat sebuah festival rock lebih dari tiga hari. menyaingi Java Jazz atau Jak Jazz.

dalam milis underground indonesia, saya menulis : udahlah guys! sepi atau tidak paling enggak kita bisa tunjukin kalo anak metal juga bisa adain even kayak Java Jazz. dan paling penting, enggak rusuh! karena sejumlah pihak justru khawatir kalau-kalau anak metal ngumpul maka yang ada hanya rusuh. kita patut kasih apresiasi buat Jakarta Rock Parade!

Rock never Die!

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged: , ,

saat ini dan yang lalu

July 28, 2008 · Leave a Comment

apa bedanya membina remaja masa kini dibandingkan beberapa tahun lalu ?

selama hampir sepuluh tahun membina Pramuka sebuah gugus depan di SMP, saya memperhatikan adanya pergeseran nilai di kalangan remaja.

bila saya tidak salah, remaja saat ini telah dijangkiti budaya instant. remaja mempercayai bahwa berprestasi bisa diraih tanpa proses berbelit-belit, butuh waktu lama atau bahkan tidak perlu bersusah payah.

hal ini semula hanya saya rasakan sendiri. tetapi ketika Minggu (27/7) hadir di seleksi Penggalang untuk petugas upacara HUT Gerakan Pramuka, yang juga berkumpul para Pembina dari berbagai SMP. ada juga rekan-rekan saya yang aktif dalam pembinaan di Paskibraka.

ternyata mereka memiliki pandangan yang sama juga. “Sama aja Kak kondisinya. remaja sekarang lebih percaya kalau berprestasi dengan cara singkat”

saya hanya angguk kepala ketika setiap Pembina saling melontarkan argument tentang kondisi itu. ada yang menyalahkan ajang idol-idolan sebagai penumbuh benih budaya instant. ada juga yang mengatakan inilah era kehidupan remaja saat ini.

tetapi jauh dalam hati saya berpikir, mungkin inilah sosok remaja saat ini. pemikiran budaya lama hendaknya berganti. remaja masa kini tidaklah sama dengan diri saya dulu. memaksakan nilai-nilai yang saya anut belum tentu diterima oleh remaja sekarang. silahkan saja seperti itu asal siap menanggung ditinggalkan remaja.

bukankah setiap generasi punya era sendiri ?

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged:

potensi diri itu BESAR!

July 28, 2008 · 1 Comment

akhir pekan lalu, saya menonton DVD film Kung FU Panda. selain lucu, juga mengingatkan saya betapa besarnya potensi dalam diri ini. disebutkan si Panda terpilih menjadi jago kung fu untuk mengalahkan seorang murid pembangkang. ia pun akan diberikan sebuah jurus rahasia untuk menjadi Pendekar Naga. tetapi ketika gulungan jurus rahasia itu diterimanya, si panda malah tidak menemukan satu tulisan pun terkait meningkatkan kekuatan diri. kertas gulungan itu hanya selembar kertas kosong. “You just to trust yourself.. it’ll be a power!”

dan ketika si panda meyakini kemampuan dirinya TIDAK KALAH dibandingkan orang lain, maka ia pun memiliki kekuatan tidak terkalahkan.

saya ingat dalam sebuah pelatihan. disebutkan oleh si trainer bahwa setiap orang bisa memiliki potensi diri sangat besar. tapi hanya sedikit yang sadar dan mau mengembangkannya. kita lebih banyak (dan hanya baru) mengembangkan 0,00001 persen potensi diri. Albert Eisntein saja yang dikenal jenius baru menggunakan 0,5 persen kemampuan dirinya.

itulah kenapa saya menyukai sebuah milis yang berisi pengalaman berbagi member milis untuk membuka potensi diri. dan tidak mudah mengajak orang lain untuk mau membuka potensi dirinya.

ini yang saya lakukan sejak membina Penggalang sebuah gugus depan. tujuan saya membina bukan mereka bisa baris-berbaris atau pintar sandi-sandi. melainkan bagaimana memotivasi untuk mengembangkan potensi diri. saya percaya ketika seseorang sudah terbuka potensi dirinya maka banyak bidang bisa diraihnya.

sedikit menyambung. Minggu (27/07) saya menghadiri seleksi Penggalang untuk dipilih sebagai petugas upacara HUT Gerakan Pramuka 14 Agustus nanti. saya mendampingi 7 anak didik yang kebanyakan belum punya jam terbang tinggi dalam hal kompetisi dengan Penggalang lainnya.

lumrah bila kemudian anak didik saya gelisah, takut hadapi Penggalang lain. “Pulang aja deh Kak… saya enggak bisa.” inilah yag disebut ketidak percayaan dalam diri. minder merasa tidak mampu bahwa dirinya bisa melakukan lebih daripada orang lain. tidak yakin dirinya bisa melampui kemampuan orang lain padahal sebenarnya siapapun memiliki potensi besar.

saya pun harus bersusah-payah memotivasi anak didik. “Mau saya kasih tau rahasia biar lolos kompetisi?,” ujar saya dan anak didik pun pasang telinga serius. saya melanjutkan, “Rahasianya… enggak ada rahasia koq. kalian cukup percaya dengan diri kalian sendiri. kalian pasti bisa dan saya percaya itu!.”

ah… yakini saja potensi diri sangat besar!

→ 1 CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged: ,

ode semangat

July 11, 2008 · 2 Comments

Satu persatu aku menyalami rekan kerja yang mengundurkan diri. Mereka memilih bekerja di stasiun televisi lain, tentunya dengan segudang pengharapan.

Ya, sudah hak setiap orang untuk memiliki kehidupan yang layak. Bahkan lebih layak dibandingkan kondisi saat ini. Aku hanya beharap bahwa kepergian rekan-rekan itu membawa kebaikan bagi tempat yang ditinggalkannya, bagi tempat yang akan didatanginya dan tentu saja bagi dirinya sendiri. Jadi baik untuk semua pihak.

Jujur saja, peristiwa mundurnya rekan-rekan secara bersamaan membuat diriku sedikit goyah. Semangat kerja menurun. Otak lebih banyak diisi pikiran bagaimana dan bagaimana. Bahkan hati dipenuhi hasrat untuk ikut pindah. Pokoknya bagai daun di atas bantal.

Beberapa hari lalu aku menerima sebuah email dari rekan milis. Isinya cukup menarik. Ditulis bahwa kita bisa mengubah suatu lingkungan menjadi lebih baik. Bukan lingkungan yang mengubah diri kita.

Inilah yang mulai saya sadari. Sebenarnya kita memiliki andil dalam membuat maju atau stagnan sebuah organisasi. Saya tidak katakan rekan-rekan yang undurkan diri sebagai barisan yang tidak memiliki andil memajukan perusahaan. Tidak! Saya percaya mereka memiliki niat memajukan perusahaan. Hanya saja, merasa niatnya bisa lebih baik dilaksanakan di tempat lain.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ?

Setelah membaca email itu, saya mulai mengatur kembali semangat. Membangun kembali niat. Memang kehilangan adalah sesuatu yang menyakitkan. Meski seorang karyawan hanya manusia, namun saya percaya setiap manusia memiliki potensi besar. Kalaupun terlihat sebagai sosok lemah tidak mampu, maka kemungkinannya karena tidak diberi kesempatan mengembangkan potensi.

Maka, semangat harus kembali dibangun. Apalagi akan hadirnya para pengganti karyawan yang undur diri. Apakah pantas kita menunjukan sebuah semangat yang minimalis ketika mereka justru memiliki semangat juang 45?

Jepang mampu bangkit dari kekalahannya akibat Perang Dunia II karena semangat samurai-nya. Semangat tidak mau kalah, bahkan kalah berbalas dengan tercerabutnya nyawa. Hal inilah yang seharusnya aku tunjukan kepada rekan baru, pun kepada rekan yang sudah undurkan diri.

Semangat bahwa aku bukan barisan orang kalah. Aku juga berjuang sama seperti kalian.

Tunjukan…buktikan!

Kita bukan kaum kalah

Semangatlah wahai kawan

Atau dirimu benar-benar kalah

(bait lagu milik Kharetz, grup band Punk asal Ciomas)

→ 2 CommentsCategories: diri sendiri

romansa kehidupan

July 11, 2008 · Leave a Comment

Akhir pekan ini Ibukota diguyur hujan. Sebuah peristiwa alam yang terbilang unik karena biasanya hujan turun pada bulan-bulan berakhiran ”Ber” atau ”Ri”. Lha koq ini di bulan Juni ? Teman saya bilang para dewa khayangan sedang bersedih karena adanya SKB 3 menteri yang usik-usik kepercayaan seseorang. Sementara teman saya yang lain berkata inilah cara Tuhan menyejukan kembali hati orang Indonesia yang sekian hari panas oleh isu naiknya harga BBM, aksi serang antar organisasi, dan benturan politik.

Apapun itu, praktis selama dua hari di akhir pekan saya hanya berdiam diri di dalam rumah saja. Saya urung pergi karena malas berhujan ria apalagi sambil kendarai motor.

Hari Sabtu, saya mengunjungi pacar di rumah kontrakannya. Tidak kemana-mana karena hujan sudah turun sejak pukul sepuluh pagi. Turun bahkan reda ketika jam sudah sembilan malam.

Hasilnya selain mengobrol, saya pun tertidur pulas hanyut terbawa suasana yang memang mendukung untuk beristirahat. Sejenak saya seperti menemukan kedamaian hidup, sejenak beristirahat dari rutinitas belakangan waktu lalu yang hampir tidak memberi saya ruang untuk sekadar menghela nafas.

Saya memang tidak begitu sibuk. Bahkan mungkin kalau saya bilang saya sibuk adalah suatu hal yang mengada-ada. Tetapi apa yang terjadi pada lingkungan tempat saya bekerja belakangan ini membuat adrenalin berpacu.

Secara kebetulan, beberapa rekan kerja mengundurkan diri. Bagi saya, adalah suatu hak bagi seseorang untuk memilih dimana ia bekerja. Suatu hak pula untuk melangkah dan memutuskan yang terbaik bagi dirinya. Bukankah kita bekerja karena didorong beragam faktor ? Ada yang mencari kebutuhan finansial, kepuasan batin atau hanya sekedar bekerja mengisi waktu luang.

Tetapi euforia keluarnya sebagian rekan kerja berimbas juga pada alam pikiran saya. Mau tidak mau saya pun berpikir apa yang sebaiknya saya lakukan, kembali bekerja atau ikut mencari lahan kerja baru. Pikiran ini terus-menerus menghantui saya kalau boleh jujur. Dan inilah yang kemudian membuat pusing kepala saya.

Entahlah! Situasinya berbeda ketika saya memutuskan berhenti kerja di perusahaan sebelum saat ini. Ketika itu saya tidak ragu untuk ’mencari yang lain.’ Ya karena memang saya tidak lagi banyak berharap terhadap perusahaan.

Sebuah keputusan tentu tidak bisa diambil dalam keadaan terburu-buru atau cepat. Dulu pun ketika memutuskan berhenti, saya butuh waktu hampir bulanan sampai kemudian mantap untuk kembali mengirim surat lamaran demi surat lamaran.

Ah… sejenak saya berhenti memikirkan euforia itu. Dalam pejaman mata yang ditemani rintik hujan, saya tertidur. Tapi tidur kali itu istimewa. Entah kenapa satu per satu saya teringat kembali bagaimana diri saya beberapa waktu lalu.

Teringat ketika setiap hari menyambangi kantor pos guna mengirimkan lamaran. Atau ingat pagi-pagi bangun karena harus menjalani tes di sebuah perusahaan pada pukul sembilan pagi. Pokoknya saya diajak kembali melihat diri saya hari kemarin.

Sampai kemudian saya sadar bahwa tujuan kita dalam hidup ini adalah belajar. ”bukan dimana kita tapi bagaimana kita.”

Hidup adalah proses belajar, belajar dan belajar. Khalil Gibran berkata bahwa orang yang berhenti untuk belajar adalah MATI meski ia merasa memiliki kehidupan.

Hakikat inilah yang kemudian kembali saya sadari. Kembali saya pahami. Sudahkah saya melakukan yang terbaik dalam proses belajar di perusahaan ini ? Atau saya hanya baru melakukan proses belajar paling dasar ?

Dan bila nanti proses belajar sudah cukup, maka sebuah lompatan pun akan saya lakukan. Karena sekali lagi, hidup adalah belajar !

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri

Untuk Sita

July 11, 2008 · 1 Comment

Mungkin saya ini manusia unik. Saya menyukai yang belum tentu disukai oleh banyak kalangan. Ambil contoh di tempat bekerja saat ini. Kebanyakan rekan menyukai bidang olahraga atau otomotif. Sementara penggemar musik ada tapi jenis musik yang easy-listening atau easy-going.

Sementara saya sedikit menaruh perhatian pada bidang otomotif. Kalau olahraga suka hanya saja bukan seperti yang digemari kebanyakan rekan kantor. Nah, untuk musik rasanya hanya saya seorang yang menggemari musik genre cadas.

Tengoklah setiap jam bubar kantor, maka ruangan saya akan hingar-bingar oleh musik berirama keras mulai dari Death Metal, Black Metal, Punk sampai Hard Core. Bagi saya itulah musik yang bisa asyik. Sementara rekan kerja saya yang belum pulang dan harus mendengar lantunan musik itu hanya bisa elus dada. Sabar kupingnya sakit.

Kadang saya berharap ada rekan kerja di kantor ini yang sama-sama sealiran menyukai musik cadas. Sehingga bisa mendengarkan bareng lalu membahasnya. Bukan geleng-geleng kepala ketika suara yang keluar hanya teriakan dan jeritan di antara nada.

Sebenarnya sih ada seorang rekan, Sita namanya. Rupa-rupanya rekan saya yang saat bekerja di kantor sedang hamil anak pertama ini menyukai musik cadas. Beberapa kali kami nyambung bicara grup cadas. Bahkan Sita akui pernah jadi anak Punk. ”Punk itu jiwa, semangatnya harus ada di hati,” begitu kataku suatu ketika. Beberapa kali pun aku pernah memberinya info pertunjukan musik-musik cadas di JABODETABEK.

Uniknya, setiap kali aku putar musik-musik cadas maka Sita akan enjoy mendengar. Bahkan Sita merasa kalau bayi yang dikandungnya pun ikut menikmati. ”Hahaha… bayimu nanti jadi rocker, Sita,” candaku.

Kalau sudah begitu maka aku pun akan berceramah ria. Menjelaskan seribu satu hal tentang Metal. Mulai dari nenek moyangnya sampai anak cicitnya. Termasuk juga semangat kaum cadas. ”Punk biar kayak orang gila itu tapi idealisnya tinggi,” jelasku suatu ketika, ”Ada enggak anak punk malak, nyuri atau ngerampok orang? Kagak ada karena anak punk hidup dengan dirinya sendiri.” Berulang kali aku cerita tentang musik cadas tanpa peduli Sita mendengarkan atau tidak. Masa bodoh!

Tapi rupanya Sita harus berhenti bekerja. Ia ikut suami yang bekerja tidak di kota Jakarta. ”Sulit bagi suamiku jauh apalagi mau melahirkan begini,” alasan yang diberikan kepadaku.

Ya, mau apa lagi. Aku hanya merasa kehilangan seorang rekan yang memiliki kesenangan sama. Sebagai tanda perpisahan, aku pun menyiapkan sebuah CD berisi kumpulan musik-musik cadas koleksiku. ”Siapa tahu bayimu kangen dengar musik metal, nanti tinggal putar aja ya,” pesanku saat menyerahkan CD itu. Tidak lupa ku ucapkan terima kasih mau ikhlas bersama-sama mendengarkan musik cadas yang bagi sebagian orang cukup untuk membuat sakit kepala.

Dan, hari ini kembali aku mendengar musik cadas. Sengaja menggunakan headphone dan disetel dengan volume maksimal. Ya, biarkan aku larut dalam kegembiraan. Gembira sendiri…..

* ditulis ketika Sita resmi mengundurkan diri. lupa tanggal Juni 2008

→ 1 CommentCategories: diri sendiri

mahalnya harga istirahat

June 30, 2008 · Leave a Comment

berapa harga agar anda bisa berisitirahat di Ibukota ini ?

ribuan, jutaan, miliar atau bahkan triliun ?

seorang kawan saya mengundang untuk bertamu. dia baru saja beli sebuah apartemen di tengah kota Jakarta. kamarnya di lantai 20. dari jendela kamar, saya bisa lihat lampu-lampu kota. berapa harga sewa apartemen teman saya ini, “sebulannya habis lima juta, Gie.” teman saya ‘terpaksa’ memilih apartemen itu karena faktor lokasi yang memudahkannya bermobilitas di tengah belantara Ibukota. “enggak macet, enggak bising, dekat lagi. sebuah tempat yang nyaman buat istirahat”.

ada lagi teman saya yang senang habiskan akhir pekan dengan menyewa penginapan di Puncak, pantai atau kawasan wisata lainnya. jika anda atau saya sebulan sekali berlibur maka teman saya ini setiap minggu berlibur. meski harga BBM naik dia tetap menganggarkan biaya liburan supaya empat kali dalam sebulan bisa melepas penat. berapa biaya yang dikeluarkannya, “kadang diatas lima juta kadang dibawahnya.”

wah..wah… kehidupan Ibukota yang terus bergerak dinamis memang membuat istirahat sebagai barang mahal. enggak heran hal ini pun dilirik sebagai potensi pasar. lihat aja gerai-gerai yang menawarkan jasa spa, relaksasi, dan sejenisnya.

→ Leave a CommentCategories: diri sendiri · tulisan ringan
Tagged: