Eggi168 Weblog

January 21, 2008

3 ANAK KUCING DI PANTI JOMPO

Filed under: Blogroll — eggi168 @ 8:00 am

Panti Jompo Tunas Harapan.

Lokasinya berada di kota Cianjur, jauh dari hiruk-pikuk Ibukota. Padahal kebanyakan penghuni panti adalah warga Ibukota. Hanya faktor kesibukan anak-anaknyalah yang membuat Opa-Oma, begitu biasa disapa, menghabiskan hari demi hari di panti jompo ini. Sang pemilik panti rupanya jeli melihat tren masyarakat perkotaan yang menganggap kaum manula hanyalah seonggok manusia yang sudah tidak bisa lagi diberdayakan. Rasanya memang pantas memasukan orang tua yang sudah lanjut usia ke panti jompo daripada merawatnya di rumah. Terlepas seribu satu hikayat tentang bakti anak kepada orang tua.

Dari Terminal Cianjur ambillah arah ke barat menuju sebuah desa Sukamakmur menggunakan angkutan pedesaan. Berhenti begitu menemui sebuah balai desa, namun perjalanan belum selesai. Sekitar 100 meter dari balai desa itu, barulah terlihat Panti Jompo Tunas Harapan. Pagar putih setinggi dua meter menjadi penyambut para tamu yang berkunjung. Begitu memasuki pasang mata ini langsung melihat hamparan halaman cukup luas dengan rerumputan hijaunya. Suasana asri terbangun karena pepohonan seperti Beringin, Mangga, dan Cemara, tumbuh menjulang di halaman. Tidaklah heran Opa-Oma sering menghabiskan waktu duduk bercengkrama di bawah rindangnya pepohonan tersebut. Semilir angin yang menghembuskan wangi rerumputan terkadang bisa membuat Opa-Oma tiba-tiba tertidur.

Di bawah pohon Beringin, Opa Jakob menemukan seekor kucing berwarna hitam campur putih melahirkan tiga ekor anaknya. Tidak jelas dari mana si kucing itu berasal. Bahkan Opa Jakob ingat tidak pernah ada yang memelihara atau ada seekor kucing liar berkeliaran di panti ini.

Tubuh induk kucing itu terkulai lemas sementara kulit ketiga anaknya masih basah dan mengeong lirih dengan suara yang pelan. Opa Jakob panik entah harus berbuat apa melihat sebuah kehidupan di depan matanya. Ia membungkukan tubuh ingin mengambil anak-anak kucing itu dengan kedua tangannya. “STOP!”, sebuah teriakan menghentikan gerakan tangannya. “Kalo kamu pegang dengan tangan, bisa-bisa induk kucing itu tidak mau membesarkan anaknya”, ujar Oma Vivin sambil mendekati Opa Jakob.

Oma Vivin menyuruh Opa Jakob mundur, “Biarkan induk kucing itu… nantinya dia juga akan pulih kembali”. Dan benar saja, si induk kucing itu membuka matanya dan menggeliatkan tubuhnya. Ia menjilati satu persatu tubuh anaknya. Opa Jakob dan Oma Vivin tertawa melihat hal tersebut. “Benar, kan apa kataku…Hahahaha”

a a a a

Hari-hari berikutnya ketiga anak kucing itu diasuh oleh Opa Jakob dan Oma Vivin sampai kemudian tumbuh besar. Opa Jakob menyisihkan uang pensiunnya dan kemudian memberikannya kepada Oma Vivin untuk dibelanjakan sekantong ikan kecil. Setiap hari, Opa Jakob dan Oma Vivin bergantian menyiapkan makanan untuk ketiga anak kucing itu dua kali sehari. Di akhir pekan, mereka memandikan anak kucing itu penuh kehati-hatian. Dan menghabiskan hari untuk bermain bersama ketiga anak kucing. Opa Jakob dan Oma Vivin bahkan rela tidak tidur siang meski pengasuhnya meminta jika si anak kucing masih mengajak bermain.

Kehadiran ketiga anak kucing ternyata telah mengubah kondisi diri Opa Jakob dan Oma Vivin. Kini mereka lebih bersemangat setiap harinya. Makan pun selalu banyak, begitu pula rajin senam. “Kalo saya sakit, gimana nantinya tiga anak kucing itu…siapa yang mau merawatnya”, begitu alasan kedua lansia yang sama-sama sudah berumur 70 tahun. Ketiga anak kucing itu memang sudah tidak lagi diasuh oleh induknya sebagai bentuk kemandirian dan bertahan hidup.

Opa Jakob dan Oma Vivin sering terlihat tertawa melihat polah ketiga kucing itu berebut bola. Atau sedih ketika melihat anak-anak kucing itu dijahili kucing lain atau anak-anak sekitar panti. Terkadang gelisah saat ketiga anak kucing itu tiba-tiba sakit entah kenapa. Opa Jakob dan Oma Vivin begitu menyayangi mereka.

a a a a

Hari itu Opa Jakob dan Oma Vivin duduk di beranda panti. Tidak ada ketiga anak kucing yang biasanya bermain saling rebut bola. Setelah membersihkan meja kerja, Aku menghampiri mereka. “Koq sepi Opa,Oma, anak-anak kucingnya kemana?”, tanyaku. Opa Jakob dan Oma Vivin saling berpandangan, lalu melihatku dengan raut wajah sama persis ketika orang tuaku melepas kepergian diriku kuliah di luar daerah. Raut wajah orang tua yang mengangeni anaknya untuk kembali lagi entah suatu saat.

Jakarta, Januari 2008

Gie

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: